Sabtu, 15 November 2014

KONSTRUKTIVISME

MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME

BAB I
PENDAHULUAN
Kontruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (von Glaserfeld dalam Pannen dkk, 2001:3). Konstruktivisme sebagai aliran filsafat, banyak mempengaruhi konsep ilmu pengetahuan, teori belajar dan pembelajaran. Konstruktivisme menawarkan paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Sebagai landasan paradigma pembelajaaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembagan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampun untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Seruan tersebut memberi dampak terhadap landasan teori belajar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Semula teori belajar dalam pendidikan Indonesia, lebih didominasi aliran psikologi behaviorisme. Akan tetapi saat ini, para pakar pendidikan di Indonesia banyak yang menyerukan agar landasan teori belajar mengaju pada aliran konstruktivisme.
Akibatnya, oreintasi pembelajaran di kelas mengalami pergeseran. Orentasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa.
Siswa tidak lagi diposisikan bagaikan bejana kosong yang siap diisi. Dengan sikap pasrah siswa disiapkan untuk dijejali informasi oleh gurunya. Atau siswa dikondisikan sedemikian rupa untuk menerima pengatahuan dari gurunya. Siswa kini diposisikan sebagai mitra belajar guru. Guru bukan satu-satunya pusat informasi dan yang paling tahu. Guru hanya salah satu sumber belajar atau sumber informasi. Sedangkan sumber belajar yang lain bisa teman sebaya, perpustakaan, alam, laboratorium, televisi, koran dan internet.
Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Namun guru lebih diposisikan sebagai fasiltator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (Hudojo, 1998:5-6). Aliran ini lebih menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.
Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa (Suherman dkk, 2001:76).
Oleh karena itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya (Setyosari, 1997: 53).
Memperhatikan uraian diatas, nampanya pembelajaran dengan pendekatan problem posing sejalan dengan prinsip pembelajaran berparadigma konstruktivisme. Melalui pembelajaran dengan pendekatan problem posing, siswa bisa belajar aktif dan mandiri. Ia akan membagun pengetahuannya dari yang sederhana menuju pengetahuan yang kompleks. Dan dengan bantuan guru, siswa bisa diarahkan untuk mengaitkan suatu informasi dengan informasi yang lainnya sehingga terbentuk suatu pemahaman baru.





BAB II
PEMBAHASAN

1.        A.    Pengertian dan Tujuan Konstruktivisme
Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru.  Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau ……pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997).
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri.sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain.
Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut:
1.        Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
2.        Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
3.        Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
4.        Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.  Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998).
B. Langkah-Langkah Pembelajaran Kontrutivisme
1. Identifikasi tujuan. Tujuan dalam pembelajaran akan memberi arah dalam merancang program, implementasi program dan   evaluasi.
2. Menetapkan Isi Produk Belajar. Pada tahap ini, ditetapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip fisika yang mana yang harus dikuasai siswa.
3.  Identifikasi dan Klarifikasi Pengetahuan Awal Siswa. Identifikasi pengetahuan awal siswa dilakukan melalui tes awal, interview klinis dan peta konsep.
4. Identifikasi dan Klarifikasi Miskonsepsi Siswa. Pengetahuan awal siswa yang telah diidentifikasi dan diklarifikasi perlu dianalisa lebih lanjut untuk menetapkan mana diantaranya yang telah sesuai dengan konsepsi ilmiah, mana yang salah dan mana yang miskonsepsi.
5. Perencanaan Program Pembelajaran dan Strategi Pengubahan Konsep. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran. Sedangkan strategi pengubahan konsepsi siswa diwujudkan dalam bentuk modul.
6. Implementasi Program Pembelajaran dan Strategi Pengubahan Konsepsi. Tahapan ini merupakan kegiatan aktual dalam ruang kelas. Tahapan ini terdiri dari tiga langkah yaitu : (a) orientasi dan penyajian pengalaman belajar, (b)menggali ide-ide siswa, (c) restrukturisasi ide-ide.
7. Evaluasi. Setelah berakhirnya kegiatan implementasi program pembelajaran, maka dilakukan evaluasi terhadap efektivitas model belajar yang telah diterapkan.
8. Klarifikasi dan analisis miskonsepsi siswa yang resisten. Berdasarkan hasil evaluasi perubahan miskonsepsi maka dilakukaan klarifikasi dan analisis terhadap miskonsepsi siswa, baik yang dapat diubah secara tuntas maupun yang resisten.
9. Revisi strategi pengubahan miskonsepsi. Hasil analisis miskonsepsi yang resisten digunakan sebagai pertimbangan dalam merevisi strategi pengubahan konsepsi siswa dalam bentuk modul.
C. Ciri-Ciri Pembelajaran Secara Konstuktivisme
1.      Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenar
2.      Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
3.      Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid
4.      Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide
5.      Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid
6.      Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru
7.      Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
8.      Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen.
D. Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3.      Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5.      Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6.      Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7.      Mmencari dan menilai pendapat siswa
8.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
E.        Keunggulan dan Kelemahan Model Konstrutivisme
§  Keunggulan Model kontruktivisme
1.        Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
2. pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
1.        Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
4. pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.
5. Pembelajaran Konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
6. Pembelajaran Konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.

§  Kelemahan Model Konstruktivisme
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.

 BAB III
PENUTUP
1.        A.    Kesimpulan
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

1.        B.     Saran

Dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan situasi yang kondusif dalam pembelajaran guru hendaknya mengambil posisi sebagai pasilitator dan mediator pembelajaran. Peran sebagai pasilitator dan mediator pembelajaran akan memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengemukakan gagasan dan argumentasinya sehingga proses negosiasi makna dapat dilaksanakan. Melalui nogosiasi makna, siswa akan terhindar dari cara belajar menghafal.

 DAFTAR PUSTAKA

Berg, Euwe Van Den (Ed). (1991). Salah konsep Fisika dan Remidiasi. UKSW: Salatiga
Bodner, G.M. (1986). Constructivism: A theory of knowledge. Journal of Chemical Education, 63 (10)
Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi.Jakarta :Depdiknas
Direktorat PLP. (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Leraning (CTL)). Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Driver, R. (1988). Changing conceptions. Centre for Student in Science and Mathematics Education,
University of Lees
Fosnot, C.T. (1989). Equiring Teacher Equiring Learners. A Constructivist Approach for Teaching.
New York: Teachers Colloge Press
Hudoyo, H. 1998. Mengajar belajar Matematika. Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi.
Novak, J.D. & Gowin, B. ( 1985). Learning how to Learn. Cambridge University Press.
Sadia, dkk. (1996). Pengaruh Prior Knowledge dan Strategi Conseptual Change Dalam
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah Menengah Pertama (SMP). Laporan
Penelitian Basic Science.
University of Washington. (2002). Indonesian Teaching Training Proyect, The Washington State
Consortium For Contextual Teaching And Learning.
Wheatly, Grayson H. (1991). Constructivist perspectives on Science and Mathematics Learning


Sabtu, 01 November 2014

Bahan Ajar  1
 Konsep Tes, Pengukuran dan Evaluasi
Tujuan : Mahasiswa dapat membedakan konsep tes,pengukuran dan evaluasi
Uraian Materi Pembelajaran :
  1. Evaluasi
Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang  diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Purwanto, 1995). Sesuai dengan pengertian tersebut,  kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data. Kemudian berdasarkan data atau informasi  tersebut  dibuat suatu keputusan. Sebagai contoh, berdasarkan informasi  yang diperioleh dari hasil tes atau ulangan, seorang guru membuat keputusan tentang siswa  apakah lulus atau tidak lulus dalam mata pelajaran tertentu ;  apakah siswa tersebut akan diberikan program remedial atau tidak ?
Evaluasi atau penilaian dapat pula diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek (Sudjana,1992). Dalam konteks pembelajaran, yang menjadi objek penilaiannya adalah hasil belajar dan  proses pembelajaran.Dengan demikian ditinjau dari objeknya ada dua macam penilaian, yaitu penilaian hasil belajar dan penilaian proses pembelajaran.Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu, sedangkan penilaian proses pembelajaran adalah proses pemberian  nilai terhadap kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam hubungan dengan evaluasi hasil belajar,  Gronlund (1986) merumuskan pengertian evaluasi sebagai berikut : “Evaluation....a systematic process of determining the extent to wich instructional objectives are achieved by pupils”. Dengan  kata lain, evaluasi merupakan   suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa. Tujuan pembelajaran pada dasarnya merupakan  perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah terjadi proses pembelajaran. Perilaku siswa  sebagai hasil belajar  mencakup ranah  kognitif, afektif, dan psikomotor. Karena itu, dalam penilaian hasil belajar, peranan tujuan pembelajaran  yang berisi rumusan kompetensi  atau kemampuan  yang diharapkan  dikuasai siswa menjadi unsur penting sebagai dasar dan acuan penilaian.
Dari rumusan-rumusan tersebut di atas sedikitnya ada tida aspek yang perlu diperhatikan untuk lebih memahami  evaluasi pembelajaran.
1)      Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi pembelajaran merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan.
2)      Di dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data  yang menyangkut objek yang sedang dievaluasi. Dalam kegiatan pembelajaran , data yang dimaksud mungkin berupa hasil tes atau ulangan,  nilai  tugas atau  pekerjaan rumah. Berdasarkan data itulah selanjutnya diambil suatu keputusan sesuai dengan  tujuan evaluasi yang sedang dilaksanakan.
3)      Setiap kegiatan evaluasi-khususnya evaluasi pembelajaran,  tidak dapat dilepaskan dari tujuan pembelajaran  yang hendak dicapai. Tanpa menentukan atau merumuskan tujuan-tujuan terlebih dahulu, tidak mungkin menilai sejauh mana pencapaian hasil belajar siswa.
    Selain istilah evaluasi, dikenal pula assessment, appraisal  yang sering dianggap sama atau dipertukarkan penggunaannya.  Menurut Stock (dalam Dahlan dkk, 2007:1.9) terdapat perbedaan pengertian antara assessment, appraisal, dan evaluation,  sebagai berikut.
1)      Assessment biasanya dihubungkan dengan kemampuan seseorang, seperti kecerdasannya, keterampilannya, kecepatannya, ketepatannya dan lain sebagainya yang terkait dengan pekerjaan atau tugasnya. Untuk membedakan tingkatan masing-masing kemampuan biasanya dinyatakan dalam angka atau huruf  75% atau B. Dengan kata lain, angka yang tertulis pada lembar jawaban peserta didik atau dalam Buku Raport adalah hasil assessment.
2)      Appraisal merupakan pernyataan tentang sesuatu yang tidak dapat dinyatakan dengan angka atau huruf karena di dalamnya terdapat unsur pertimbangan (judgment) yang sangat terbatas. Dengan masuknya pertimbangan yang terbatas ini, maka assessment dan appraisal oleh beberapa ahli dianggap sama saja.
3)      Penilaian (evaluation) suatu proses di mana informasi dan pertimbangan diolah untuk membuat suatu keputusan untuk kebijaksanaan yang akan datang. Dengan kata lain, penilaian memerlukan hasil assessment dan appraisal dalam ruang lingkup yang lebih luas.

2. Pengukuran
 Secara umum dapat didefinsikan  bahwa pengukuran adalah suatu proses pemberian angka pada sesuatu atau seseorang berdasarkan aturan­ aturan tertentu.    Pengukuran hanya menghasilkan  angka-angka tentang sesuatu berdasarkan kriteria tertentu, dan  tidak menghasilkan  nilai atau baik-buruknya sesuatu. Namun,  hasil pengukuran dapat dipakai untuk membuat penilaian atau evaluasi.
Sejalan  dengan konsep di atas, Lord dan Novick (dalam Silverius, 1991) ) mendefinisikan pengukuran sebagai berikut.
"A procedure for assigning numbers (usually called scores) to a specified attribute or characteristic of persons in such a manner as to maintain the real world relationships among the persons with regard to the attribute being measured."
Suatu prosedur untuk memberikan angka (biasanya disebut skor) kepada suatu sifat atau karakteristik tertentu seseorang sedemikian sehingga mempertahankan hubungan senyatanya antara seseorang dengan orang lain sehubungan dengan sifat yang diukur itu.
Sebagai contoh,  apabila Ani  lebih pandai dari Badu  dalam mata pelajaran Ekonomi . maka skor hasil tes   yang diperoleh  harus menunjukkan bahwa Ani lebih pandai dari Badu, misalnya  skor Ani (90)   lebih tinggi dari skor  Badu (40) 
3.Tes
 Tes hasil belajar merupakan  serangkai­an pertanyaan yang harus dijawab atau tugas yang harus dikerjakan oleh siswa yang hasilnya dipakai untuk mengukur kompetensi yang telah dimiliki siswa. Mehrens dan-Lehmann (dalam Silverius, 1991) mengatakan bahwa tes berkaitan dengan penyajian serangkaian pertanyaan baku yang harus dijawab peserta tes.  Dari hasil jawaban seseorang atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diperoleh suatu ukuran  mengenai karakteristik orang tersebut.

Kamis, 16 Oktober 2014

Profil  SMK Karya  Padang  Panjang

    
NPSN
:
10303608
NSS
:
322086202002
Nama Sekolah
:
SMK Karya Padang Panjang
No. SK Pendirian
:
459/D/I/1977/  Tgl. SK : 22/08/1977
Alamat
:
Jl. HOS Cokroaminoto No. 202 Silaing Atas Padang Panjang
Telepon
:
0752-82418
Kepala Sekolah
:
Drs. MUSBAR
Visi
:
Menjadi lembaga diklat yang professional untuk menyiapkan tenaga terampil tingkat menengah yang siap memasuki lapangan kerja, bertaqwa, disipilin, mandiri, dan menguasai perkembangan Ipteks dan mampu bersaing di era globalisasi.
Misi
:
Menyiapkan dan melatih tamatan yang mampu :
1.    Memasuki lapangan kerja serta dapat mengembangkan sikap professional
2.    Memilih karier, berkompetensi dan mengembangkan diri.
3.    Menjadi tenaga kerja tingkat menengah dan menjadi warga Negara yang produktif, adaptif dan kreatif
Moto
:
“Teguh, Tangguh dan Siap untuk Berkarya”
Tujuan
:
Nilai nilai
1.       Memiliki sopan santun yang tinggi sesama warga dan orang lain
2.       Transparan, adanya keterbukaan dalam mengambil keputusan dan hubungan antar warga sekolah
3.       Pelayanan prima selalu memberi pelayanan kepada semua stakeholder sebaik baiknya
Budaya Mutu
1.       Excellent Service (Pelayanan Prima)
2.       Creative Methodology ( Mengutamakan cara yang jitu)
3.       Comitnality ( Memiliki komitmen )
4.       Nationality ( Memiliki semangat kebangsaan)
5.      Trade Mark of Global ( Menyeluruh )
Website
:
Email Kepala Sekolah
:
musbardt.jodulu@gmail.com
Email Tata Usaha
:
   smkkaryapadangpanjang@gmail.com

Program Studi Keahlian
Kompetensi Keahlian
 1. Teknik Bangunan
1. Teknik Konstruksi Batu dan Beton
 2. Teknik Ketenagalistrikan
1. Teknik Inmstalasi Tenaga Listrik
 3. Teknik Elektronika
1. Teknik Audio Video
 4. Teknik Mesin
1. Teknik Fabrikasi Logam
 5. Teknik Otomotif
1. Teknik Kendaraan Ringan
2. Teknik Sepeda Motor

Yayasan Sekolah :
Nama Yayasan  :

Didirikan pada   :
Akta Pendidiran :
Para Pendiri       :
Yayasan Pembinaan  SMK Padang Panjang dan Batipuh X Koto.
10 Agustus 1965
8 Februari 1968
1.      R. Dt. Tumbidjo Dirajo
2.      Harnil Sutan Mudo
3.      Sabirin Sutan Batuah
4.      Noezoer Sutan Sinaro
5.      MN. Sutan Mangkuto
6.      Ramli Sutan Kajo
Struktur Organisasi Sekolah
Kepala Sekolah
:
Drs. Musbar
Wakil Manajemen Mutu
:
Kepala Tata Usaha
:
Hj. Elma
Wakil Bidang Kurikulum
:
Drs. Asriwaldi
Wakil Bidang Sarana
:
Hamiko, SE
Wakil Bidang Kesiswaan
:
Aidil Fitri, S.Pd
Wakil Bidang Humas
:
Elbosri, S.Pd
Struktur Organisasi Yayasan :
Jabatan
Nama
Bertugas
Ketua Dewan Pembina
Muhklis SH,MH Dt. Putiah
Kejari Bengkalis
Ketua
Sri Nelis S.Km
DKK Kota Pariaman
Sekretaris
1.   Prihatin Nestri S.Kom

2.   Hamiko, SE
TU Pasca Sarjana USU
SMK Karya
Bendahara
1.      Drs Yasman
2.      Jimmy Human A.Md
SMK Karya
SMK Karya

Status Sekolah
Kepemilikan
:
Bukan Milik Sendiri
No. Sertifikat
:
Tgl. Sertifikat
:
15 - 08 - 1994
Luas Tanah
:
14.662 M2
Luas Bangunan
:
2.958 M2
Luas Pekarangan
:
700 M2
Luas Lapangan Olah Raga
:
6.000 M2
Sarana Sekolah
Sarana
Jumlah
Internet / Schoolnet
  1 Unit
Komputer PC Labor
20 Unit
Laptop / Notebook
  6 Unit
LCD Proyektor
  5 Unit
Komputer PC Kantor
  3 Unit

Ketenagaan Sekolah
Ketenagaan
Jumlah
Tenaga Administrasi Non PNS
:
  6 Orang
Tenaga Administrasi PNS
:
  0 Orang
Guru Non PNS
:
22 Orang
Guru PNS
:
27 Orang
Fasilitas Sekolah
Fasilitas
Jumlah
Kelas Teori
27 Ruangan
Labor Bahasa
  1 Ruangan
Labor Komputer
  1 Ruangan
Ruang Praktek Siswa
15 Ruangan
Labor IPA
  0 Ruangan
Pustaka
  2 Ruangan
UKS
  1 Ruangan
OSIS
  1 Ruangan
Majelis Guru
  2 Ruangan
Aula
  1 Ruangan
Bimbingan dan Konseling
  1 Ruangan
Kantin
  1 Ruangan


Padang Panjang,   Oktober 2014

Kepala Sekolah,




Drs. MUSBAR
NIP 19610215 198503 1 003